Sunday, January 25, 2009

Winner VS Looser

The Winner is always part of the answer;
The Loser is always part of the problem.


The Winner always has a program;
The Loser always has an excuse.


The Winner says, “Let me do it for you”;
The Loser says, “That is not my job.”


The Winner sees an answer for every problem;
The Loser sees a problem for every answer.


The Winner says, “It may be difficult but it is possible”;
The Loser says, “It may be possible but it is too difficult.”


When a Winner makes a mistake, he says, “I was wrong”;
When a Loser makes a mistake, he says, “It wasn’t my fault.”




A Winner makes commitments;
A Loser makes promises.


Winners have dreams;
Losers have schemes.


Winners say, “I must do something”;
Losers say, “Something must be done.”


Winners are a part of the team;
Losers are apart from the team.


Winners see the gain;
Losers see the pain.


Winners see possibilities;
Losers see problems.


Winners believe in win-win;
Losers believe for them to win someone has to lose.


Winners see the potential;
Losers see the past.


Winners are like a thermostat;
Losers are like thermometers.


Winners choose what they say;
Losers say what they choose.


Winners use hard arguments but soft words;
Losers use soft arguments but hard words.


Winners stand firm on values but compromise on petty things;
Losers stand firm on petty things but compromise on values.


Winners follow the philosophy of empathy: “Don’t do to others what you would not want them to do to you”;
Losers follow the philosophy, “Do it to others before they do it to you.”

Winners make it happen;
Losers let it happen.


Winners plan and prepare to win.
The key word is preparation
Readmore ...

Saturday, January 24, 2009

Keterampilan Berfikir

oleh : Joko Sutrisno

Pendapat umum menyatakan bahwa keterampilan berpikir yang efektif merupakan suatu karakteristik yang dianggap penting oleh sekolah pada setiap jenjangnya, meskipun keterampilan berpikir seperti ini jarang diajarkan oleh guru di kelas. Mengajarkan keterampilan berpikir secara eksplisit dan memadukannya dengan materi pembelajaran (kurikulum) dapat membantu para siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif secara efektif. Artikel ini mencoba menjabarkan definisi keterampilan berpikir, menjelaskan bagaimana seharusnya keterampilan berpikir tersebut diajarkan di sekolah, dan menunjukkan bagaimana keterampilan berpikir tersebut diterapkan pada pembelajaran di sekolah.

Definisi Keterampilan Berpikir
Keterampilan berpikir dapat didefinisikan sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan. Untuk mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, pertama-tama proses kognitif inferring harus dipecah ke dalam langkah-langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang telah diketahui sebelumnya, dan (d) membuat perumusan prediksi hasil akhir.

Terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir, yang sebenarnya cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (high level thinking), berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical thinking). Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memory. Jika dikaitkan dengan taksonomi Bloom, berpikir tingkat tinggi meliputi evaluasi, sintesis, dan analisis. Berpikir kompleks adalah proses kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian. Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik. Lawan dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik.

Dalam makalahnya Andrew P. Jhonson (The Educational Resources Information Center (ERIC), 2002) memberikan contoh 10 keterampilan berpikir kritis dan 8 keterampilan berpikir kreatif beserta kerangka berpikirnya. Yang dimaksud dengan kerangka berpikir adalah suatu representasi dari proses kognitif tertentu yang dipecah ke dalam langkah-langkah spesifik dan digunakan untuk mendukung proses berpikir. Kerangka berpikir tersebut digunakan sebagai petunjuk berpikir bagi siswa ketika mereka mempelajari suatu keterampilan berpikir. Dalam praktiknya, kerangka berpikir tersebut dapat dibuat dalam bentuk poster yang ditempatkan di dalam ruang kelas untuk membantu proses belajar mengajar.

Mengajarkan Keterampilan Berpikir
Jika pengajaran keterampilan berpikir kepada siswa belum sampai pada tahap siswa dapat mengerti dan belajar menggunakannya, maka keterampilan berpikir tidak akan banyak bermanfaat. Pembelajaran yang efektif dari suatu keterampilan memiliki empat komponen, yaitu: identifikasi komponen-komponen prosedural, instruksi dan pemodelan langsung, latihan terbimbing, dan latihan bebas.

Pada dasarnya pembelajaran keterampilan berpikir dapat dengan mudah dilakukan. Sayangnya, kondisi pembelajaran yang ada di kebanyakan sekolah di Indonesia belum begitu mendukung untuk terlaksananya pembelajaran ketrampilan berpikir yang efektif. Beberapa kendalanya antara lain pembelajaran di sekolah masih terfokus pada guru, belum student centered; dan fokus pendidikan di sekolah lebih pada yang bersifat menghafal/pengetahuan faktual. Keterampilan berpikir sebenarnya merupakan suatu keterampilan yang dapat dipelajari dan diajarkan, baik di sekolah maupun melalui belajar mandiri. Yang perlu diperhatikan dalam pengajaran keterampilan berpikir ini adalah bahwa keterampilan tersebut harus dilakukan melalui latihan yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak. Tahapan tersebut adalah:

1. Identifikasi komponen-komponen prosedural
Siswa diperkenalkan pada keterampilan dan langkah-langkah khusus yang diperlukan dalam keterampilan tersebut. Ketika mengajarkan keterampilan berpikir, siswa diperkenalkan pada kerangka berpikir yang digunakan untuk menuntun pemikiran siswa.

2. Instruksi dan pemodelan langsung
Selanjutnya, guru memberikan instruksi dan pemodelan secara eksplisit, misalnya tentang kapan keterampilan tersebut dapat digunakan. Instruksi dan pemodelan ini dimaksudkan supaya siswa memiliki gambaran singkat tentang keterampilan yang sedang dipelajari, sehingga instruksi dan pemodelan ini harus relatif ringkas.

3. Latihan terbimbing
Latihan terbimbing seringkali dianggap sebagai instruksi bertingkat seperti sebuah tangga. Tujuan dari latihan terbimbing adalah memberikan bantuan kepada anak agar nantinya bisa menggunakan keterampilan tersebut secara mandiri. Dalam tahapan ini guru memegang kendali atas kelas dan melakukan pengulangan-pengulangan.

4. Latihan bebas
Guru mendesain aktivitas sedemikian rupa sehingga siswa dapat melatih keterampilannya secara mandiri, misalnya berupa pekerjaan rumah. Jika ketiga langkah pertama telah diajarkan secara efektif, maka diharapkan siswa akan mampu menyelesaikan tugas atau aktivitas ini 95% - 100%. Latihan mandiri tidak berarti sesuatu yang menantang, melainkan sesuatu yang dapat melatih keterampilan yang telah diajarkan.

Bagaimana dengan Di Indonesia?
Jika kita kembalikan kepada dunia pendidikan di Indonesia, yang menjadi masalah adalah bagaimana cara mengajarkan keterampilan berpikir tersebut di sekolah sehingga ia bisa menjadi sesuatu yang dapat memperbaiki belajar siswa. Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk melakukan hal ini, yaitu keterampilan berpikir dijadikan terpadu dengan bidang studi yang diajarkan atau keterampilan berpikir diajarkan secara terpisah. Di beberapa wilayah di Jerman, sekolah mengajarkan pelajaran Logika kepada para siswanya.

Di Indonesia, pengajaran keterampilan berpikir memiliki beberapa kendala. Salah satunya adalah terlalu dominannya peran guru di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu, sehingga siswa hanya dianggap sebagai sebuah wadah yang akan diisi dengan ilmu oleh guru. Kendala lain yang sebenarnya sudah cukup klasik namun memang sulit dipecahkan, adalah sistem penilaian prestasi siswa yang lebih banyak didasarkan melalui tes-tes yang sifatnya menguji kemampuan kognitif tingkat rendah. Siswa yang dicap sebagai siswa yang pintar atau sukses adalah siswa yang lulus ujian. Ini merupakan masalah lama yang sampai sekarang masih merupakan polemik yang cukup seru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Kurikulum Berbasis Kompetensi yang sudah mulai diterapkan di Indonesia sebenarnya cukup kondusif bagi pengembangan pengajaran keterampilan berpikir, karena mensyaratkan siswa sebagai pusat belajar. Namun demikian, bentuk penilaian yang dilakukan terhadap kinerja siswa masih cenderung mengikuti pola lama, yaitu model soal-soal pilihan ganda yang lebih banyak memerlukan kemampuan siswa untuk menghafal.

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam pengajaran keterampilan berpikir di sekolah antara lain adalah sebagai berikut:
- keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa
- keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pengajaran suatu bidang studi
- pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing
- pengajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered).

Selain beberapa prinsip di atas, satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam pengajaran keterampilan berpikir adalah perlunya latihan-latihan yang intensif. Seperti halnya keterampilan yang lain, dalam keterampilan berpikir siswa perlu mengulang untuk melatihnya walaupun sebenarnya keterampilan ini sudah menjadi bagian dari cara berpikirnya. Latihan rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi dan otomatisasi keterampilan berpikir yang telah dimiliki siswa. Dalam proses pembelajaran di kelas, guru harus selalu menambahkan keterampilan berpikir yang baru dan mengaplikasikannya dalam pelajaran lain sehingga jumlah atau macam keterampilan berpikir siswa bertambah banyak.

Kesimpulan
Berpikir secara efektif merupakan suatu karakteristik yang bermanfaat dalam pembelajaran di sekolah pada tiap jenjangnya; meskipun bagaimana berpikir secara efektif ini jarang mendapatkan perhatian dari para guru. Riset menunjukkan bahwa meskipun keterampilan dasar siswa tetap konsisten atau sedikit mengalami kenaikan, tetapi siswa tidak memperoleh keterampilan strategi berpikir secara efektif di sekolah. Jika siswa mempelajari cara berpikir tingkat yang lebih tinggi dan kompleks, maka masuk akal bahwa instruksi keterampilan berpikir tersebut dapat dipakai sebagai alat yang potensial untuk meningkatkan pembelajaran di sekolah. Dengan kata lain, jika kita ingin siswa menjadi pemikir yang handal, kita harus mengajarkan caranya.

Readmore ...

Tuesday, January 13, 2009

Kegagalan Terlaris Di Dunia

Bisnis yang dimulai dengan kegagalan bisa membawa kesuksesan yang tidak disangka-sangka. Seperti yang dialami oleh Clarence A. Crane, pebisnis permen coklat yang suatu ketika harus memutar otak karena omzet bisnisnya menurun setiap musim panas karena coklat menjadi mudah meleleh.

Akhirnya Crane memutuskan untuk membuat dan menjual permen mint padat. Untuk mencetaknya, ia menyewa seorang pembuat pil lokal untuk membuat permen mint menjadi padat. Karena kesalahan mesin, permen yang dihasilkan ternyata tidak berbentuk bundar padat seperti yang diinginkan, melainkan berlubang di tengah seperti cincin.

Melihat permen gagal itu, Crane tidak begitu saja langsung membuangnya. Ia malah menjual permen cincin itu dengan nama "Life Savers". Hasilnya? Produknya menjadi permen cincin pertama dan paling sukses di dunia.

Sejak pertama kali muncul di tahun 1912 sampai tahun 1980, permen paling laris di dunia ini diperkirakan telah terjual sebanyak 30 milyar keping, yang bila dijejerkan panjangnya sama dengan rute bumi - bulan hingga 3 kali

find this site http://dexton.adexindo.com/

Readmore ...

My Greatest Struggle

I confess: I am ambitious. I am ambitious in every area of my life. I am ambitious physically, emotionally, relationally, spiritually, and financially. I am ambitious in my career. I am ambitious with both the for-profit and not-for-profit organizations I run.

But ambition isn't the problem. Something else is. It is something that runs counter to ambition. It is something I need more of in my life, which is strange, because, while ambition is good, this is good too - and they are seemingly opposites.

I need them both, yet I have huge doses of ambition and I am lacking in this other trait. It is something I want more of in my life because I believe my life will be richer for it. It will fill my life with more joy and happiness. It will make my life more full.

What is it? I'm not telling! Just joking. With a lead in like that, I couldn't resist!

It is contentment.

As I get older, I realize that most of what I pursue with such tenacity is good, but it usually comes much slower than I want it to.

This leaves me with two options:

Be disappointed or.

Be content. Enjoy where I am for all it has to offer, even while I work to be somewhere else.

You see, my life is pretty good. No, it is great. I make a lot of money. I have a beautiful and supportive wife. I have four astoundingly incredible kids. I live in a beautiful town. I run my own schedule. I travel to wonderful places. I run in circles I never thought I would. My friends are loyal. I have terrific business partners and lots of people who believe in me. I contribute a lot to society in many ways. My family and I are all healthy. Who could ask for anything more? Well, me. And I do.



That is a lot to ask for, isn't it? But I am ambitious, right?

Now I am learning contentment. And I imagine that it would do you some good to learn a little contentment too, wouldn't it?

So here are some thought on how to live with a little more contentment:

Take time.
Simply take time off from your ambitions. Take time to spend in leisurely pursuits. Take time to just enjoy your family and friends. In other words, stop working long enough to enjoy your life.

Appreciate.
Appreciate what you have, even if it isn't all that you want. I frequently remind myself that there are children who will wake up today, by no fault of their own, in a country with no hope of ever going anywhere. Their hope is to live through the day, and perhaps get two bowls of rice. This reminds me that I have A LOT to be appreciative of even if I never take a step further in life.

Give money, things, and time away.
Give to the less fortunate. The happiness on their faces and the warmth of their hearts will bring you a great deal of satisfaction and contentment.

Remind yourself of the treadmill trap.
John D. Rockefeller was once asked how much was enough. His answer? "Just a little bit more." Ambition can be a trap if not carefully guarded against the extremes.

Don't take yourself so seriously.
I hate to tell you this but if you died... shhh... the world would keep right on spinning. Tony Campolo says the futility of life is that when you die, your friends get together, say a prayer, throw dirt in your face and then go back to the church to eat macaroni salad and talk about sports. So, unless you are the President of a major super power, with your finger on the button, remember, your life isn't so serious that you can't take it easy and enjoy it a little bit more.

Do I have contentment down? Nope. But I am working on it. I am striving to be all that I can be and make as big of a difference in this world as long as I am here.

But I am working on enjoying the ride a bit more. I hope you will too.

You are Made for Success!
Chris Widener

Chris Widener is an internationally recognized speaker, author and radio host. Chris is the author of eight books and audio series as well as over 400 success articles.

Readmore ...

Monday, January 12, 2009

Biarkan Anakku jadi KULI !!!!!!

Suatu Statement yang bertolak belakang dari kata-kata ayah saya (yang juga seorang karyawan),”Lebih baik kecil jadi bos, daripada gede jadi kuli!” Tapi itulah kenyataannya. Mayoritas orang tua murid secara tidak langsung menggiring anaknya jadi kuli. Jika Anda memiliki seorang anak yang sekarang bingung mau jadi apa? Coba ingat-ingat kembali, apa yang telah Anda ajarkan bagi mereka? Sejak dari usia dini, mereka diajarkan untuk “tidak membuat kesalahan”, betulkah?!


Sebagian atau mungkin mayoritas pembaca akan protes (saya juga pas dengar kata-kata ini dari Om Bob Sadino juga bertanya-tanya) ,”Emang mau ngajarin anak kita berbuat salah atau gagal?” Saat anak Anda belajar berjalan dan mulai memanjat, Anda berkata,”Eehh, JANGAN manjat-manjat, nanti jatuh!” Doktrinisasi lainnya,”Belajar yang rajin, sekolah yang tinggi, biar gampang CARI KERJA”. Kala anak kita ingin memulai usaha sambil kuliah, Andapun berkata,”Udah, selesaikan sekolahmu dulu…!” Apa yang dikatakan kebanyakan orang tua setelah anaknya lulus kuliah dan ingin memulai usaha? “Kerja dulu di perusahaan besar, cari pengalaman dan kumpulkan uang untuk modal, baru mulai usaha!” Biasanya mereka akan terjebak di zona kenyamanan dan hilanglah keberanian. Apa yang akan Anda katakan saat anak Anda gagal usaha? “Udahlah, kamu tuh nggak bakat jadi pengusaha!”

Sadar atau tidak, sebagai orang tua, Anda sangat berperan membentuk nasib anak Anda saat ini atau dimasa mendatang. Jika mereka jadi bimbang saat mau melangkah, takut salah, takut gagal, diam ditempat dan loyo. Ya itu buah dari apa yang telah Anda tanamkan ke mereka. Saya adalah sebagian kecil orang yang beruntung mendapatkan nilai-nilai kemandirian dari orang tua saya. Meskipun ayah saya seorang karyawan sampai pensiun, namun doktrinisasi kemandiriannya membuat saya tegar menghadapi semua rintangan hidup. Apa kata-kata lain yang sering diucapkan ayah saya? “Papah yakin, kamu PASTI BISA!”, “Coba terus sampai bisa”, “Gelar itu tidak penting, skill lebih penting”, “Belajarlah dari kesalahan” bukannya tidak boleh salah lho.

Cari KETRAMPILAN Bukan Gelar

Minggu lalu saya berjumpa dengan salah seorang mahasiswi Universitas Ciputra, bernama Carol. Di usianya yang baru 19 tahun, saya cukup kagum dengan kemampuannya berinteraksi dengan orang lain. Carol menceritakan perihal pertemuannya dengan Ciputra, pendiri Universitas Ciputra. Pak Ci berpesan kepada Carol,”Kamu semester 6 keluar aja, bangun usahamu. Tak usah lama-lama sekolah”. Jika Anda sebagai seorang dosen atau orang tua murid, beranikah Anda mengatakan seperti itu? Pikir 200 kali mungkin ya? Kenapa Pak Ci berani mengatakan seperti itu? Justru karena beliau melihat potensi Carol yang bisa melesat lebih jauh dibanding jika ia tetap di bangku kuliahnya? Bagaimana dengan gelarnya sebagai seorang sarjana? Justru saat ia tidak mendapat gelar sarjana, tidak memberikan pilihan baginya menjadi seorang karyawan. Perlu diketahui, hingga saat ini, Universitas Ciputra statusnya belum terakreditasi! Siapa sih orang tua yang mengijinkan anaknya sekolah seperti itu?
Readmore ...

POWER OF GIVING

Alkisah, ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark, yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya. Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya. Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus. Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu. Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi. Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar.

Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak2 mereka bahwa malam itu mereka batal nonton sirkus karena uangnya kurang. Sementara anak2 nya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus. Tiba2 Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata: "Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak", sambil menjulurkan lembaran 20 dollar dan mengedipkan sebelah mata nya. Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yg dilakukan Ayah Clark. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terimakasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi sangat berarti bagi keluarganya. Tiket seharga 60 dollar pun terbayar. Dan dengan riang gembira, keluarga besar itupun pun segera masuk ke dalam sirkus.

Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang. Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi. Malam itu, Clark merasa sangat bahagia. Ia tidak dapat menyaksikan sirkus. Tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.

Cerita di atas mengingatkan saya akan kekuatan memberi. The Power of Giving. Lebih tepatnya lagi "Giving and Receiving". Karena memberi dan menerima, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dari cerita diatas, ada dua kebahagiaan yang terjadi dalam aktifitas memberi. Yaitu kebahagiaan bagi yang menerima, dan sekaligus kebahagiaan yang diperoleh si pemberi. Bapak 8 anak yang "diselamatkan" oleh Ayahnya Clark, tentu pada saat itu akan merasa sangat bahagia. Tapi Ayah Clark sendiri juga merasakan kebahagiaan yang sangat luar-biasa.

Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri. Tidak berlebihan apabila Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Success mencantumkan "Law of Giving" sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima. Coba kita perhatikan. Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima. Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman, menggunakan karbon-dioksida dalam proses fotosintesa, dan membebaskan oksigen.

Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan, mengalir. Orang-orang jaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini. Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency, yang akar katanya adalah bahasa latin currere yang artinya mengalir.

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: Apakah yang harus saya berikan? Jawabannya sama dengan pertanyaan: apa yang Anda ingin dapatkan? Jika Anda ingin mendapatkan kasih-sayang, berikan kasih sayang, jika Anda ingin pengetahuan, sebarkanlah pengetahuan, jika Anda ingin uang, maka berikanlah uang. Ya, ini sesuai dengan prinsip memberi dan menerima di atas, apa yang mengalir keluar dari Anda, adalah apa yang akan mengalir kembali kepada Anda. Alam semesta mengikuti hukum ini. Bahkan yang mengalir kembali kepada Anda, selalu lebih besar dari yg mengalir keluar dari Anda, karena semesta jauh lebih besar dari Anda! Jadi jika Anda ingin banyak uang, berikan uang. Ada yg bertanya, lalu bagaimana jika uang Anda belum banyak? Wah, kalau begitu Anda perlu memberi lebih banyak lagi, hehehe ...

Seandainya giving belum menjadi habit, sebetulnya ada beberapa tips yg bisa Anda terapkan. InsyaAllah jika dilaksanakan secara rutin, akan memperkuat syaraf giving Anda:

1. Kemanapun Anda pergi untuk bertemu dengan seseorang, usahakan membawakan suatu hadiah. Apapun bentuk hadiah tadi. Hal ini sebenarnya sudah diajarkan oleh orang tua kita jaman dahulu, namun sering kita lupakan. Perhatikan saja, orang tua kita dahulu setiap berkunjung ke rumah teman atau saudara selalu membawa oleh-oleh. Anda juga bisa memulai kebiasaan ini. Mungkin sekedar membawa sebungkus coklat, bunga (lho ini mau nyatain apa ya?), atau doa. Ya, kalaupun terpaksa tangan Anda kosong, ya berikan saja doa ketika Anda bertemu dengan seseorang.

2. Syukuri setiap pemberian yang Anda terima hari ini. Lho, bagaimana jika hari ini saya tidak menerima pemberian apa-apa? Salah, Anda pasti menerima sesuatu dari alam semesta. Mulai dari udara pagi yang cerah, sinar matahari yang hangat, sapaan tetangga yang ramah, bahkan teguran dari orang tidak dikenal, bertemu teman lama yang Anda rindukan, dan masih banyak lagi. Ya tentu lebih konkret lagi apabila tiba-tiba hari ini ada yang memberikan handphone baru atau iPod baru kepada Anda. Jelas Anda harus syukuri apa yg Anda terima.

3. Berkomitmenlah untuk selalu berbagi apa yang Anda sebetulnya bisa berikan setiap saat:

- Cinta. Mungkin Anda langsung tertawa. Ah, kalau cuma cinta saya sudah berikan setiap saat untuk keluarga saya. Mungkin Anda benar. Yang harus Anda ingat adalah, seperti kata Stephen Covey, Cinta adalah kata kerja, bukan kata benda. Artinya, harus di praktek-kan. Ya, kalau Anda sudah memiliki cinta untuk orang-orang terdekat Anda, praktek-kan. Berapa kali Anda dalam sehari memeluk dan mengusap kepala anak Anda? Dan mengucapkan bahwa Anda sayang anak Anda?

- Tawa. Ini bukan hal sepele. Tertawa adalah ekspresi kebahagiaan. Bantulah orang-orang di sekitar Anda mengekspresikan rasa bahagia melalui tertawa. Berapa kali dalam sehari Anda tertawa? Tahukan Anda bahwa seorang anak tertawa rata2 150 kali dalam sehari, dan orang dewasa hanya 15 kali dalam sehari. Bergembiralah, bagikan tawa di rumah Anda, jika tidak nanti anak Anda lebih menyukai Mas Thukul daripada Anda.

- Pengetahuan. Anda pasti tahu sesuatu labih baik dari seseorang. Mungkin Anda jago mengurus ikan Arwana, bagikan. Anda pintar dalam mengurus tanaman Aglonema? Bagikan. Anda pintar memasak, tulis resep dan bagikan. Bagikan pengetahuan Anda, karena pengetahuan adalah gift dari Yang Maha Kuasa.

Banyak contoh di dunia ini, dimana orang memberikan pengetahuan nya, dan menuai banyak sekali manfaat, termasuk dalam finansial. Gary Craig, penemu teknik Emotional Freedom Technic, memberikan ebook nya secara cuma-cuma. Azim Jamal, seorang penulis dan pembicara terkenal di Kanada, menyumbangkan 100% dari hasil penjulan buku nya "Power of Giving" untuk charity. Ya, 100%, bahkan semula buku nya bisa di download gratis dalam bentuk ebook, sebelum publishernya meminta Azim menghentikan.

Saya tutup catatan kali ini dengan sebuah cerita humor Sufi berikut ini:

Alkisah ada seorang Sufi yang sudah merasa teramat dekat dengan Tuhan nya. Suatu hari ketika sedang berjalan, Sang Sufi berpapasan dengan seorang yang sangat miskin. Tubuhnya kurus kering, tinggal tulang berbalut kulit yang dibungkus dengan kain compang-camping seadanya. Badan nya tergeletak lemas di pinggir jalan, bibirnya mengering, menandakan sudah lama si miskin tidak mendapat makan. Melihat penderitaan si miskin, Sang Sufi pun berteriak protes pada Tuhan nya: "Ya Tuhan, mengapa Engkau tidak lakukan sesuatu untuk orang ini !!". Sesaat kemudian, terdengar jawaban: "Ya! Makanya Aku ciptakan kamu!".

Readmore ...

Wednesday, January 7, 2009

Permainan Pikiran tuh.....

Suatu sore.
Lagi duduk-duduk sama SiMbah Bijak.

“Kamu itu mikirin apa tho, nduk?”

“Hehe.. Ndak, mbah.. Sayah cuma kepikiran, gimana kalo besok sayah ndak kayak temen-temen sayah yang udah jagoan-jagoan ituh. Yang udah bergaji tinggi dan punya kedudukan enak. Sayah mau jadi apa ya besok, mbah..”

SiMbah Bijak cuma senyum sambil ngelus-ngelus kepala sayah.

“Nduk, apa tho gunanya mikir hal-hal yang belum tentu terjadi? Mbayangken hal-hal yang belum terjadi itu cuma permainan buruk dari pikiran. Yang kamu lakuken itu cuma bikin kecemasan dan kekhawatiran belaka. Apa yang bakal terjadi besok, ya kita hadapi sebagaimana mestinya aja. Kalo sudah terjadi di depan kita.”

Sayah merenung.

“Loh, mbah, apa rasa cemas itu timbul dari pikiran yang mbayangin masa depan, tho, mbah?”

SiMbah senyum lagi.

“Nah, itu kamu bisa ngerti, nduk. Lha jelas kayak gitu tho, nduk. Misalnya ini, yang takut sakit tentunya bukan dia yang lagi kena penyakit. Kalo udah kena penyakit, takutnya bukan sama sakit lagi tho nduk. Tapi takut sama mati. Padahal ya blom tentu mati. Urusan mati itu kan bukan urusan kita manusia.”

Sayah noleh ke SiMbah yang selalu mencerahkan kepala sayah ini.

“Perlu ndak kita hidup dicekam rasa takut dan rasa khawatir?
Pikiran yang bertanggung jawab atas timbulnya rasa takut. Pikiran yang inget kesenangan di masa lalu. Trus pikiran juga mengharapken terulangnya kesenangan itu lagi besok. Lha terus timbul khawatir, gimana ya kalo ndak terulang.
Pikiran mengenang penderitaan masa lalu dan pengen jauh-jauh dari penderitaan ituh. Trus pengen agar di masa depan hal itu tidak terulang kembali. Kalo udah gitu, timbul kekhawatiran kalo nanti dapet penderitaan lagi.”

Sayah meresapi tiap kata.

“Ndak ada habis-habisnya ya mbah..”

“Iya, nduk.”

“Lha terus gimana dong, mbah?”

“Ya hiduplah buwat saat ini.
Curahkan seluruh perhatian, seluruh hati dan pikiran, untuk menghadapi saat ini, sekarang ini. Apa yang terjadi ke kamu sekarang ini, nduk. Bukan inget-inget yang kemaren, bulan kemaren, atau taun kemaren. Bukan juga yang bakal terjadi besok, atau bulan depan atau taun depan.”

Sayah mingkem. Alis sayah naek satu. Tanda ndak setuju.
SiMbah yang liat muka sayah cuma ngekek. Geli.

“Lha gimana tho mbah. Mikirin apa yang bakal terjadi besok kan buwat persiapan. Buwat jaga-jaga. Buwat prepare gitu loh mbah. Kalo kayak gitu, berarti sayah disuruh ndak peduli. Disuruh acuh. Disuruh cuek.”

“Lho, bukannya kamu biasanya juga cuek tho nduk?”

SiMbah tambah ngekek geli liat sayah mutung.

“Gini loh, Nduk.
Kamu sadar ndak, justru biasanya kita bersikap masa bodoh dan ndak acuh, ndak ngasih perhatian yang mendalam terhadap saat ini. Lha karena seluruh perhatian kita sudah habis buwat khawatir di masa depan. Perhatian kita kadang habis buwat mengenang masa lalu. Kerjaanmu yang sekarang jadi malah ndak karuan..”

Sayah terdiam. Apa yang dibilang SiMbah tersayang sayah inih menohok logika sayah.

“Justru kalo kamu bebas dari masa lalu, ndak lagi ada bayangan masa depan, dan trus hidup penuh perhatian buwat saat ini, itu nduk, yang SiMbah bilang hidup yang sebenernya.”

“Lha kok bisa gituh?”
Sayah emang susah buwat ndak ngeyel sesuatu.

“Ya karena kamu menghayati hidupmu. Dengan penuh kewajaran. Ndak terbuai sama kenangan-kenanganmu. Ndak pula tertekan sama harapan muluk-mulukmu. Padahal ya blom tentu juga.”

“Ah, kan penting tho mbah, punya harapan. Itu kan target sayah buwat ke depan. Lha siapa tau bisa aja tho sayah gagal, jadi sayah punya solusinya. Siapa tau ada yang njegal sayah gitu. Sayah udah tau mau sayah apakan mereka ituh.”
Sayah memang pembantah alami.

Dan SiMbah kembali terkekeh.

“Nduk. Itu namanya prasangka. Prasangka itu timbulnya dari mana? Dari pikiranmu itu, nduk. Pikiranmu mereka-reka, bikin kamu cemas sendiri. Lha kalo udah gitu, kamu jadi ndak fokus sama sekarang ini yang kamu hadapi. Detik ini. Gunanya apa kamu cemas? Blom tentu kejadian tho? Harapan kosong ituh, timbul dari pikiranmu sendiri, nduk. Kamu sendiri yang mempermainken pikiranmu sendiri.”

Ah, SiMbah ini. Sok tau bener. Tapi kok ya kena di kepala sayah. Lha sayah ini kok ya mikirin hal-hal yang belom kejadian. Gara-gara kebanyakan mikir yang ndak-ndak, jadi cemas sayah.

Ah, kenapa ndak ada mata kuliah manajemen pikiran??!!
Readmore ...

Get Free Inspiring Article Poster

Get more Inspiring Article poster and picture here


Readmore ...

Saturday, December 20, 2008

HARGA

Masalah harga adalah salah satu faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan suatu usaha. Begitu banyak hal-hal terkait yang harus dipertimbangkan pada masalah ini, sehingga untuk menetapkan sebuah harga pada sebuah produk, meski kelihatan mudah, ternyata diperlukan perhitungan-perhitungan cermat guna terhindar dari hal-hal merugikan.

Prinsip ekonomi secara tradisional mengatakan bahwa bisnis adalah : “Mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya serendah-rendahnya.” Barangkali kalau diterjemahkan secara harfiah, dapat saja berarti bahwa kita dapat menetapkan harga atas semua produk setinggi-tingginya, dengan harapan keuntungan kita pun akan menjadi sebesar-besarnya. Mungkinkah demikian ?

Ternyata tidak. Sedikitnya ada 3 hal yang bisa mempengaruhi usahawan untuk memasang harga, yang dalam kasus ini, menghalangi kita untuk membuat harga setinggi-tingginya. Tiga hal itu adalah faktor persaingan, peraturan pemerintah dan etika.

Faktor persaingan mencegah kita dan semua usahawan dari keinginan untuk memasang harga semaunya, karena bila pesaing memasang harga rendah, otomatis semua kosumen akan lari ke pesaing tersebut. Peraturan pemerintah biasanya diterapkan untuk mencegah pihak-pihak yang mempunyai kekuatan ekonomi kuat, agar tidak mengatur harga-harga secara sepihak, terutama atas produk-produk yang menguasai hajat hidup orang banyak. Di Indonesia, hal ini bisa kita lihat mengacu pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33. Yang terakhir adalah etika. Etika merupakan benteng terakhir sifat kemanusiaan, yang bisa mencegah terjadinya kesewenang-wenangan manusia atas manusia lainnya. Penetapan harga yang melampaui batas kepantasan, juga termasuk salah satu bentuk kesewenang-wenangan manusia, oleh sebab itu, ilmu kewiraswastaan sangat merekomendasikan pembinaan sikap mental, agar semua pengusaha mengerti, mendalami serta menjiwai etika bisnis yang baik.

Didalam suatu sistem ekonomi bebas, tingkat persaingan dibuat seketat mungkin, dengan maksud mendorong peningkatan kualitas barang, sekaligus memberikan kepuasan pelanggan berdasarkan mutu dan pelayanan yang baik serta kebebasan memilih. Dengan jalan ini, harga-harga akan terbentuk secara alamiah sehingga semua pihak akan menerimanya sebagai aturan main yang adil dan jujur. Dilain sisi, para pengusaha merasakan konsekuensi bahwa persaingan harga menjadi sedemikian berat, yang kalau tidak dicermati dengan baik akan membawa akibat kerugian. Untuk menanggulangi situasi itu, banyak pakar bisnis berpikir mengenai strategi kebijaksanaan harga yang dirasa paling optimal disetiap keadaan atau kasus.

Pada perusahaan-perusaahaan yang menghasilkan multi-produk (bermacam-macam produk yang biasanya saling berkaitan), sering diterapkan strategi sedemikian, sehingga ada jenis produk tertentu yang bukan merupakan produk utama, tidak disertakan kandungan laba pada harga jualnya, sedangkan laba yang sebenarnya ada pada produk lain. Pada kasus tertentu, bahkan ada barang yang dijual secara rugi, akan tetapi bagi sipedagang ini merupakan keharusan, karena dengan penjualan rugi itulah pelanggan justru bisa ditarik minatnya untuk datang. Dibeberapa toko klontong dan juga unit penjualan koperasi, beberapa macam barang dagangan ringan seperti peniti dan bumbu masak sekali pakai, umumnya tidak diberikan harga yang berlaba, karena komoditi seperti itu hanya berfungsi sebagai penarik konsumen.

Sementara itu, produsen-produsen komoditi ringan seperti tusuk gigi dan peniti, tentu tidak mungkin menambahkan presentasi laba yang tinggi pada harga jual, oleh karenanya mereka selalu mengandalkan jumlah produksi dalam volume besar. Konsekuensinya adalah bahwa luas geografis pendistribusian barang-barang tersebut harus cukup luas. Penulis pernah mengagumi sistem pendistribusian sebuah produk ringan, yaitu tusuk gigi cap Burung Garuda yang biasa digunakan direstoran-restoran dan warung makan kota Jakarta, ternyata juga penulis temukan dipakai di warung-warung nasi ukuran kecil dipedalaman dan desa-desa di Aceh Tengah (Bireun dan Takengon) pada tahun 1976-1977, padahal waktu itu keadaan keamanan masih terhitung rawan.

Didalam suatu pasar yang telah mencapai keseimbangan, dan telah menyisakan beberapa merek tertentu sebagai peserta-peserta yang mampu bertahan hidup, sering para produsen dan penjual mencapai kesepakatan untuk memasang harga yang seragam. Dengan jalan ini pihak penjual bisa membebaskan diri dari persaingan tidak sehat, sehingga seakan-akan pangsa pasar yang ada, dibagi sama rata diantara mereka. Kita bisa menemukan komunitas penjual seperti ini, misalnya dipasar barang-barang elektronik di Glodok Jakarta. Disitu para penjual seakan bersatu-padu dalam menghadapi konsumen, sehingga tidak ada diantara mereka yang saling menjatuhkan, bahkan sebaliknya mereka saling bantu misalnya dalam penyediaan barang, bila salah satu diantara mereka kehabisan persediaan.
Readmore ...

Laju Yang Dapat Dipertahankan

Usaha-usaha kecil memberikan hasil yang besar apabila dilakukan cukup sering, dan setiap orang memiliki kemampuan untuk menjalankan usaha-usaha kecil.

Usaha-usaha kecil biasanya tidak mendapatkan perlawanan yang berarti. Dengan kesabaran dan keteguhan hati, usaha-usaha kecil itu akan mengalahkan tantangan-tantangan berat, dengan berjalanannya waktu.

Seringkali, kemajuan yang paling bisa diandalkan dan yang tak bisa dihentikan adalah kemajuan yang terlalu kecil untuk disadari. Walaupun setiap usaha kecil tampaknya tidak memberikan pengaruh apa-apa ketika anda melakukannya, pada titik tertentu anda akan melihat kembali dan menyadari dampak yang sangat besar dari semua usaha anda yang telah terkumpul.

Bila anda mencari kepuasan dengan cepat dari setiap tindakan, anda membuat hidup menjadi menyakitkan dan membuat frustasi yang tidak perlu saja. Namun bila anda memilih untuk memperlakukan setiap kesempatan sebagai investasi jangka panjang yang positif dalam hidup anda, imbalannya akan sangat besar dan banyak.

Tingkatkan perjalanan anda dengan langkah demi langkah sederhana dan dengan penuh kegembiraan. Ketika bergerak dengan laju yang dapat anda pertahankan, anda akan dapat terus maju sejauh yang diperlukan untuk mencapai tempat yang anda inginkan.

Nikmati keberhasilan dan pencapaian ketika mereka datang satu demi satu. Tambahkan nilai yang istimewa dari setiap peristiwa di kehidupan anda, dan anda akan menciptakan sebuah harta yang tak mungkin hilang.
Readmore ...

Tuesday, December 16, 2008

10 Tipe Penonton Bioskop

Masih ingat kapan terakhir kali anda pergi ke bioskop? Di tanah air, yang namanya bioskop sudah muncul sejak lebih dari seabad lampau. Ini dihitung dari pemutaran "gambar idoep" pertama kali di bioskop Batavia pada tanggal 5 Desember 1900, tepatnya di kawasan Kebon Djahe, Tanah Abang. Film pertama yang
diputar kala itu adalah sebuah dokumenter tentang perjalanan ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag.

Dari data yang disampaikan Ketua Umum DPP GPBSI (Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia) H Djonny Syafruddin, SH, akhir 2007 silam, jumlah total bioskop di tanah air mencapai 248 dengan 681 layar. Paling banyak berlokasi di ibukota. Tentu saja jumlah ini masih akan terus bertambah.

Ngomong-ngomong, tahukah anda ternyata kebiasaan para pengunjung bioskop ini bisa dikelompokkan dalam tipe-tipe tertentu. Dan ternyata lagi, dari dulu hingga kini tipenya nyaris serupa. Hanya saja, perkembangan teknologi yang belakangan muncul menyebabkan penambahan tipe-tipe penonton baru.

Beberapa tahun lalu, sineas Joko Anwar sempat membuat pengelompokan ini dalam filmnya Janji Joni. Secara jenaka dia menggambarkan tipikal penonton dari
kebiasaan mereka saat berada di bioskop. Jika di sana digambarkan secara singkat dalam versi visual, berikut ini penjelasan sedikit lebih jauh dari tipe
penonton yang dimaksud. Sebuah paparan dalam versi main-main sebagai kado atas hari lahirnya pertunjukan bioskop di tanah air.


1. Penonton Cari Perhatian

Tak bisa dipungkiri sejak dulu kebiasaan nonton di bioskop merupakan ajang sosialisasi dengan teman-teman dan handai taulan. Seen and to be seen, demikian kata seorang rekan sosialite. Tak heran jika ada orang yang tampil maksimal dengan penampilan wah saat nonton di bioskop. Kalau bukan dengan busana yang bermerek mahal, dandanan menor atau aroma tubuh nan wangi. Tujuh kali tujuh sama dengan empat sembilan. Setuju tidak setuju yang penting penampilan. Dalam filmnya, Joko menggambarkan lewat perempuan yang bicara dengan volume suara keras.


2. Penonton Piknik

Siapa yang tidak sepakat jika bioskop adalah tempat tamasya? Terutama jika sedang ada pemutaran film anak-anak, banyak orangtua yang memboyong mereka nonton bersama. Penulis mengalami sendiri naik becak bersama adik-adik dan tetangga nonton film macam Ira Maya dan Kakek Ateng (tentu saja dibintangi Ira Maya Sopha dan almarhum Ateng) atau Anak-anak Tak Beribu (dibintangi kakak beradik Santi Sardi, Lukman Sardi dan Ajeng Triani Sardi). Sebuah piknik yang mellow lantaran film yang ditonton sungguh mengharukan.


3. Penonton Pacaran

Terserah mau dengan lain jenis ataupun sejenis. Bagi mereka yang berusia remaja, nonton bioskop adalah alasan ampuh untuk pergi dari rumah. Selanjutnya, lokasi wakuncar (so 80’s ya...) dipindahkan di tengah gelapnya bioskop. Bukan masalah pula, mau kelas atas atau kelas kambing, kelas AC atau kelas kipas angin. Yang penting bisa kencan. Taglinenya: film main, penonton main.


4. Penonton Pembajak

Tipe ini termasuk yang muncul belakangan. Teknologi baru melahirkan tipe penonton jenis ini. Dengan seperangkat kamera video mini, penonton pembajak merekam
film dari awal sampai akhir. Maka tak heran, jika anda membeli VCD atau DVD bajakan berkualitas buruk, acapkali terdengar suara penonton ataupun bayangan
tubuh penonton yang sedang melintas. Tentu saja tidak untuk ditiru, secara harga karcis bioskop jaringan 21 sudah murah sekali, paling murah kira-kira
dua mangkok mie ayam.


5. Penonton Spoiler

”Nanti habis ini jagoannya ditembak, eh malah kena temannya”. Kalimat macam ini tentu saja sangat mengganggu kenikmatan saat menonton film. Maklumlah, umumnya penonton datang ke bioskop untuk mendapatkan cerita. Jadi jika ujungnya sudah diketahui buat apa lagi datang dan memelototi gambar. Biasanya penonton spoiler ini mereka yang sudah nonton film sebelumnya.


6. Penonton Kritikus Film

Kritikus film atau kritikus bukan ini-atau itu atau wartawan film terserah. Merekalah yang biasanya sibuk sendiri saat film diputar. Dengan bantuan penerangan dari ponsel mereka mencatat bagian-bagian yang dianggap penting dari film yang mereka tonton. Namun kini peran ponsel itu sudah tergantikan dengan perangkat gadget yang lebih canggih, entah PDA, communicator atau blackberry.


7. Penonton Ponsel

Penggunaan ponsel marak sejak satu dekade silam, tepatnya akhir 1990-an. Ketika masih jarang pemiliknya, wajar saja jika dia bersikap pamer dengan bicara
keras-keras saat menjawab telepon. Sekalipun saat nonton di bioskop. Ternyata, perilaku kampungan ini masih juga belum hilang sama sekali. Sekalipun sudah dibuatkan himbauan larangan penggunaan ponsel saat film diputar, masih banyak yang lempeng aja tak perduli siapa yang di sebelahnya.


8. Penonton Tidur

Tipe penonton ini terbagi lagi atas ada dua macam. Pertama, sang penonton yang sudah kelelahan entah darimana hingga jatuh terlelap. Kedua, film yang ditonton sungguh membosankan hingga lebih baik tidur saja. Atau kata lainnya film itu dibuat khusus untuk mereka yang sulit tidur atau insomnia.


9. Penonton Telmi

”Kok jagoannya mati?” Jika pertanyaan macam ini datang dari penonton sebelah kita ini namanya malapetaka. Masih mending jika dia yang membayari karcis untuk nonton filmnya. Kata telmi alias telat mikir, bisa juga dari bahasa Inggris tell me, atau ceritain lagi dong. Tentu saja sungguh bikin repot dan mengurangi
kenikmatan nonton.


10. Penonton Perfeksionis

Konon penonton macam ini sungguh mengerti seluk-beluk film. Ciri-cirinya: selalu memelototi layar yang ada di depan matanya. Dia akan protes jika gambarnya tidak fokus, apalagi jika sampai rol yang belum datang-datang lantaran harus menunggu si Joni. Nah, jika ada yang teriak-teriak saat terjadi kondisi yang disebut belakangan boleh juga termasuk penonton perfeksionis.
Readmore ...

Profesi

Profesi adalah mata pencaharian, maka sudah sewajarnya apabila sebuah profesi dijalani dengan penuh pengorbanan.

Jangan pikirkan masalah suka tidak suka, ini bukan pilihan benarkah?

Apakah mengikuti cahaya lentera jiwa bukan sebuah pilihan?
atau lentera jiwa anda telah meredup tertalan pekat ketidakberdayaan?

Temukan & ikuti lentera jiwamu

Follow your passion

Readmore ...

Saturday, December 13, 2008

Pekerjaan Yang Diselesaikan Dengan Baik

Tidak ada yang dapat menandingi kepuasan yang anda terima setelah menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan baik. Ketika masalah telah diatasi dan tugas-tugas sulit telah diselesaikan, anda tahu pasti bahwa anda telah menciptakan sesuatu bernilai nyata.
Tantangan seperti apa pun dapat terlihat sangat berat ketika anda pertama kali menjumpainya. Namun ketika anda mulai berusaha mengatasinya, anda merubahnya dari yang tadinya beban berat menjadi sebuah kepuasan.
Keyakinan yang anda peroleh dari sebuah pekerjaan yang telah diselesaikan dengan baik tidak dapat diperoleh dengan cara lainnya. Dan keyakinan tersebut akan tetap bersama anda jauh setelah pekerjaan tadi telah selesai.
Nilai sesungguhnya dari sebuah keberhasilan adalah bukan pada saat anda memperolehnya, tapi pada saat anda sedang melakukannya. Keberhasilan terletak pada kondisi pikiran anda, dan cara yang paling bisa diandalkan untuk mencapai kondisi pikiran itu adalah dengan mengatasi tantangan yang besar. Apa yang merupakan sebuah karunia adalah bahwa akan selalu ada pekerjaan yang harus dilakukan.
Melangkahlah dengan penuh keinginan dan sambutlah setiap pekerjaan yang anda tahu dapat memberikan sebuah perbedaan. Dan nikmati imbalan-imbalan yang terus mengalir dari pekerjaan yang diselesaikan dengan baik.
Readmore ...

Friday, December 12, 2008

Kejujuran & Kepercayaan

" Diperlukan waktu 20 tahun untuk membangun reputasi dan 5 menit untuk
menghancurkannya "
Warren Edward Buffet

Kejujuran dan kepercayaan adalah dua keping mata uang yang sangat bernilai bagi kelangsungan bisnis jangka panjang. Untuk membangun reputasi dan kepercayaan diperlukan adanya kejujuran dalam setiap aspek kehidupan bisnis. Kejujuran yang dikembangkan dalam setiap aspek kehidupan bisnis akan melahirkan kepercayaan. Kepercayaan yang terbangun akan melahirkan dukungan dari pihak lain bagi keberhasilan dan kelangsungan bisnis.

Dengan demikian menanamkan nilai nilai kejujuran dan kepercayaan di dunia bisnis adalah modal berharga bagi kelangsungan usaha jangka pajang. Maka kalau Anda ingin berhasil di dunia bisnis mulailah membangun personal branding atau personal reputation sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya. Keduanya tidak bisa ditawar lagi menjadi mata uang bagi kesuksesan Anda jangka panjang yang membahagiakan.
Readmore ...

Procrastination

"Procrastination is a favorite hiding place." -- Denis Waitley

"It seems to me that it's actually harder to invent excuses than it is to get the sale." -- Jeffrey Gitomer

"One of the greatest labor-saving inventions of today is tomorrow." -- Vincent T. Foss

"Nothing is so fatiguing as the eternal hanging on of an uncompleted task." -- William James
Readmore ...

Problem Solving

"The greatest and most important problems in life are all in a certain sense insoluble. They can never be solved, but only outgrown." -- Carl Jung

"Avoiding a problem doesn't solve it." -- Bonnie Jean Thornley


"Trust your hunches. They're usually based on facts filed away just below the conscious level." -- Dr. Joyce Brothers


"The problem is not that there are problems. The problem is expecting otherwise and thinking that having problems is a problem." -- Theodore Rubin

Readmore ...

Presentation

"If you want to know what the audience is thinking, ask them." -- Tony Jeary

"Make intangible benefits tangible by showing the financial impact your product or service can have." -- Brian Tracy

"Be brief on the logic and reason portion of your presentation. There are probably about a thousand facts about an automobile, but you don't need them all to make a decision. About a half dozen will do." -- Jim Rohn

"They may forget what you said, but they will never forget how you made them feel." -- Carl. W. Buechner
Readmore ...

Preparation

"One of life’s most painful moments comes when we must admit that we didn’t do our homework, that we are not prepared." -- Merlin Olsen
"What distinguishes winners is the will to prepare to win." -- Tony Jeary
"It is better to be prepared for an opportunity and not have one than to have an opportunity and not be prepared." -- Whitney Young, JR.
"The secret of success in life is for a man to be ready for his opportunity when it comes." -- Benjamin Disraeli
Readmore ...

Planning

"When plans are laid in advance, it is surprising how often the circumstances fit in with them." -- Sir William Osler

"If you don’t design your own life plan, chances are you’ll fall into someone else’s plan. And guess what they may have planned for you? Not much." -- Jim Rohn

"Don't just do something, sit there! Sit there long enough each morning to decide what is really important during the day ahead." -- Richard Eyre


"Fill your paper with the breathings of your heart." -- William Wadsworth

Readmore ...

Thursday, December 11, 2008

Tips Praktis :"4 Sehat 5 Sempurna"

Dalam kehidupan Manusia, antara yang telah DIPUNYAI dan ingin MEMPUNYAI itu… (Entah apa lagi?) Terrrr……lalu buuuuaanyak sekali dan tak mungkin saya tulis di sini. Karena maunya saya dan maunya Anda ‘kan belum tentu sama, toh?
Mengingat banyaknya corak dan ragam Manusia ber PERILAKU, sehingga KARAKTER nya pun jadi beraneka ragam. Akan tetapi, berkat Manusia jualah yang menjadikannya… menjadi satu PERSAMAAN dalam KESAMAAN ber KELAKUAN di antara SESAMA.. Sehingga laku dari prilakunya mempunyai CIRI dan TANDA dari setiap Manusia yang terlihat sama tetapi ada perbedaannya alias Serupa tapi tak Sama.
Nah, Dalam hal ini para pembaca pun sudah Hafal dan tahu Betul akan hal tersebut. Iyakan?!! So pasti, jadi ngak perlu diulas lagi. Ngapa’in buang-buang WAKTU aja. Lalu….. jarene Wong Jawi “Lajengnge kepripun?”, saur Urang Sunda ” Saterasna Kumaha?”, kate’ orang Betawi “Terus Gimane?”
Justru inilah saya menulis, karena saya TAHU dan me RASA TAHU. Udah gitu, saya TIDAK MAU TAHU apa yang telah DIKETAHUI oleh saya. Sehingga acap kali saya BERKEHENDAK selalu MEMAKSA dengan berbagai cara.
Inilah tulisan yang saya tulis tentang 4 SEHAT 5 SEMPURNA dalam “Kehidupan yang Hidup” menurut versi saya yang Mbeling.
Dimana? Ketika saya TAHU dan TIDAK MAU TAHU akan perihal :

1. Sikap/Attitude merangkum Metode Teknik
Saya lahir ke Dunia SEBAB dan AKIBAT ini akibat dari Dua RASA KASIH (Dua Kinestetik = K-nya Ayah + K-nya Ibu ). Lalu diproses lewat METODE TEKNIK dan dirangkum oleh SIKAP/ATTITUDE, maka lahirlah saya.
Kalau saja saya mau TAHU bahwa VAKOG yang dipunyai oleh kedua Orang Tua saya itu SAMA dengan VAKOG yang saya MILIKI. Sama? Ooooh….. jelas sekali sama. Hanya saja tidak SERUPA dalam mengaplikasikan “K”-nya.

2. Program Pikiran yang tidak dapat dibelenggu Perasaan

Dahulu kala ketika Ayah masih Muda dan awal mulanya bertemu Ibu saya. Beliau memprogram kata-kata dalam PIKIRAN (Pk) & PERASAAN (Ps) nya. Disebabkan ada KATA-KATA yang masuk ketika “V” menuju ke “K”-nya, lalu “A”-nya pun keluarlah. Contohnya : MELIHAT seorang gadis jelita – sepertinya HATI ini tertambat – ber SUARA lah : “Wow, gadis ini pantas jadi Istriku.”
Telah terjadi proses pemograman kata-kata untuk di PROGRAM. PIKIRAN (Pk)-nya bekerja agar PERASAANNYA (Ps)-nya TERCAPAI. Lalu diciptakanlah METODE TEKNIK oleh Pk-nya yang tidak dapat di BELENGGU oleh Ps-nya.
Terciptalah Rumus-rumus LEGALITAS yang diakui oleh pakar-pakar Ilmu pada Zaman itu. Bekerja keraslah Beliau mempraktekkan Rumus- rumus itu, sehingga Beliau LULUS Ujian Akhir dengan hasil nilai lebih dari memuaskan. Contoh : Bagaimana caranya agar dapat diterima oleh calon mertuanya dan sekaligus mendapatkan restu dari mereka.

3. RUMUS : 4 x { ( B ? T) }

Untuk mendapatkan SERTIFIKAT alias SURAT NIKAH yang diakui oleh khalayak ramai maka Beliau mulai menggunakan Rumus-rumus NLP yang diberi nama DALIL. Rumusnya adalah 4 x { ( B ? T) }
Inilah rumus yang PIKIRAN (Pk)-nya digunakan guna PERASAAN (Ps)-nya tercapai. Mohon jangan ditertawakan, yaaaa….. Mohon maaf yang seluas luasnya lahir dan bathin. Penjabarannya adalah :
a. Bagaimana ? dekaT
b. Bagaimana ? pikaT
c. Bagaimana ? dapaT
d. Bagamana ? ikaT
konon ada tambahan lagi :
e. Bagaimana ? sikaT
f. Bagaimana ? mingaT
Nah, kalau saya pake rumus yang diiteruskan sampai “e” dan “f” yaitu bagaimana sikat lalu bagaimana mingaaaat. Itu BAHAYA sekali!!! Op. Op.. oop…MOHON DIHAPUS e dan f nya, yah.
Akibat pengaplikasian dari rumus tersebut, Beliau berhasil menyatukan “K” sehingga terlahirlah saya yang Mbeling ini.

4. Menyamakan persamaan-persamaan

Dalam mengaplikasikan dua “K” Ayah Ibu saya; ternyata “K”-nya saya berbeda sama sekali dalam pengaplikasiannya. Akibat dari saya TAHU tetapi saya TIDAK MAU TAHU, sehingga hancur berantakanlah saya.
Dimana saya = “KA”, Istri saya = “VA” dan putra saya = “VK”. Jika ketiga persamaan ini tidak dapat disamakan maka Mala Petaka pun kemudian menimpa.
Saya =”KA”. Yang namanya “KA”; bicaranya pelan dan tidak pernah rapi. Mengapa? Karena “K” yang didahulu’in dulu baru kemudian “A” nya. Sedangkan “VA” bicaranya cepat dan rapih.
Ya, ramelah panggung sandiwara ini. Yang satu bicaranya sudah pelan berantakan pula, satunya lagi cepat rapi pula. Niat baik dapat diterjemahkan menjadi niat buruk oleh pihak yang satu dengan pihak lainnya.
Bila “VA” berprilaku; katenye orang, sih cerewet. Karena gak boleh liat yang gak rapi, makanya ngomel melulu. Sedangkan “KA” ngak mau ambil pusing, sehingga kesannya lambat oleh “VA”. Lalu “VA” bilang, “Lelet amat, sih.” Sedangkan dalam kepala Si “KA” bilang, “Mau ke mane sih buru-buru? Belanda masih jauh. Huh, dasar cerewet!!!”
Jika tiap hari kejadian model begini, maka perang Batarayuda dimix dengan perang Bubat pun terjadilah.
“Yaah, Mah. Biarlah…. Itukan ANAKKU!! Aku ‘kan Bapaknya!!! Aku mau dia jadi sepertiku”. Sedangkan Ibunya menginginkan yang sebaliknya dan masih buaaaaaanyak lagi kata-kata yang berlawanan kata terucap.

5. Sempurna jika masih ada maaf

Akibat dari TIDAK MAU TAHU nya saya, maka melalui tulisan ini saya MEMOHON MAAF kepada Ibu dan Ayahku yang telah terpisah oleh selubung Dunia.
“Ibu Ayah, MAAFKANLAH pupung ini, karena salah mengaplikasikan “K” yang Ibu Ayah berikan. Maafkan, ya BU… Maafkan, ya YAH … dan Ampuni Dosa-dosa pupung ini”.
“Wahai, Anak-anakku… Ampuni Bapak dan Maafkanlah Bapak ini”.
Begitu juga kepada para Pembaca yang saya Hormati, mohon Ampuni kata-kata saya….
Readmore ...

Creative Selling

Banyak salesman yang masih merasa sulit menjual produk/jasanya. Target tidak tercapai, harga mahal, tuntutan konsumen semakin banyak dan konsumen memiliki banyak pilihan dari tawaran berbagai kompetitor. Sering juga terdengar keluhan dari para salesman bahwa training-training salesmanship yang diberikan oleh perusahaan juga tidak banyak membantu persoalan mereka di lapangan. Training-training yang diberikan dirasa masih lebih menekankan pada tataran konsep atau teori dan belum banyak menyentuh aplikatifnya di lapangan.

Pada era perubahan yang begitu cepat dewasa ini, keunggulan seorang salesman sangat ditentukan oleh kemampuan dan kecepatannya untuk berubah, baik dalam hal pengetahuan maupun keterampilannya. Masalah-masalah penjualan yang semakin kompleks di era perubahan yang cepat ini tidak dapat lagi dipecahkan dengan cara-cara penjualan yang tradisional. Salesman yang unggul adalah salesman yang mampu berpikir dan bertindak kreatif dalam melakukan penjualannya (creative selling).

Creative selling merupakan perpaduan dari science dan art. Menjual dikatakan sebagai science karena seorang salesman haruslah memiliki pengetahuan yang luas, sedangkan art, berarti salesman harus terampil bagaimana ia melakukan penjualannya.

John C. Maxwell dalam bukunya ”Thinking for a Change” mengatakan : “kreativitas artinya melihat apa yang telah dilihat semua orang dan memikirkan apa yang telah dipikirkan semua orang sehingga Anda mampu mengerjakan apa yang belum pernah dikerjakan semua orang”. Pandangan ini juga sangat relevan dengan aktivitas salesman dewasa ini. Sebagai contoh, dari hasil pengamatan penulis tentang kunjungan salesman ke berbagai toko grosir produk-produk consumer goods. Setiap hari satu toko dikunjungi oleh banyak salesman dari berbagai merek produk. Jika saja semua salesman menggunakan cara yang sama, berarti tidak satu salesman pun yang dirasa berkesan dan berbeda oleh pemilik toko (customer). Tetapi, jika saja ada satu orang salesman dengan pendekatannya yang berbeda dengan salesman lainnya, maka wajarlah jika customer dapat mengingat dan terkesan dengan kehadiran kita dibanding salesman lainnya. Kedekatan salesman dengan customer tentulah akan memudahkan salesman menawarkan produk/jasanya. Hasil yang diperoleh salesman yang kreatif mampu menghasilkan hasil yang lebih baik daripada salesman biasa. Contoh lain yang juga cukup menarik perhatian penulis adalah, salesman koran pun ternyata mampu menjual secara kreatif. Seorang salesman koran yang pernah teramati penulis tidak hanya menjual koran dengan berteriak-teriak mengucapkan “koran…koran…koran” seperti yang sering dan biasa dilakukan salesman koran lainnya, tetapi ia menguasai informasi/berita yang ada di koran tersebut dan menyampaikan isi berita tersebut dengan bahasa yang cukup persuasif dan provokatif, sehingga banyak konsumen yang membeli koran dagangannya. Penulis sempat berpikir, tukang koran saja yang tidak pernah mendapt training tentang sales mampu menjual secara kreatif, mengapa salesman yang telah banyak mendapat training tidak mampu menjual dengan kreatif?

Pakar manajemen strategi, Michael E. Porter pernah menyampaikan rumusan tentang “The Five Generic Competitive Strategies”, yaitu: a broad differentiation, overall low cost leadership, focus low cost, focus differentiation, best cost provider”. Dari rumusan tersebut kita dapat belajar bahwa ternyata banyak cara/strategi yang dapat dilakukan untuk dapat unggul dalam persaingan. Jika salesman merasa bahwa dari segi harga dan kualitas produk yang ditawarkan masih kalah dari pesaing, maka upaya salesman yang kreatif bukanlah mengeluh kepada perusahaan akan harga dan kualitas produknya, tetapi ia dapat menggunakan upaya-upaya kreatif, misalnya strategi differentiation. Strategi ini dapat diciptakan sendiri oleh salesman, tidak harus menonjolkan perbedaan dari segi phisik, harga dan kualitas produk (yang memang sudah kalah dari pesaing), tetapi dapat dilakukan dengan variabel-variabel lain, misalnya sentuhan dan pelayanan pribadi yang dapat mengesankan customer. Salesman perlu memikirkan ide-ide kreatif cara mendekati calon pembeli. Meski pun demikian, tidak berarti harus menggunakan cara-cara penipuan agar produk/jasanya sekedar cepat laku terjual seperti yang banyak dilakukan salesman gadungan yang akhirnya merusak citra profesi salesman.

Penjulan kreatif bukanlah semata-mata persoalan produk dan jasa yang ditawarkan, bukan pula semata-mata persoalan tentang banyaknya tuntutan konsumen, tetapi juga adalah persoalan pribadi salesman. Hal yang harus diingat salesman adalah, bahwa dalam melakukan aktivitas penjualannya, salesman berhadapan dengan makhluk yang namanya manusia, bukan benda atau makhluk mati. Segala sesuatu tindakan dan perilaku manusia, termasuk juga dalam memutuskan untuk membeli atau tidak atas produk/jasa yang ditawarkan juga sangatlah ditentukan oleh tipe dan karakater manusianya. Hukum aksi dan reaksi berlaku di sini. Jika salesman menginginkan reaksi-reaksi tertentu dari seorang calon pembeli, maka aksi-aksi yang diberikan seorang salesman tentu haruslah dalam rangka memunculkan reaksi-rekasi yang diharapkan. Sebagai contoh, jika salesman lebih banyak bicara (aksi), tentu reaksi yang paling mudah diprediksi dari calon pembeli yaitu calon pembeli akan lebih banyak diam. Jika demikian berarti salesman tidak mendapatkan informasi tentang kebutuhan dan persoalan calon pembeli. Itu berarti pula, jika salesman ingin mendapat reaksi tentang informasi yang lebih banyak dari calon pembeli, maka aksi yang seharusnya dilakukan oleh salesman adalah aksi untuk lebih banyak bertanya dan mendengarkan bukannya lebih banyak bicara. Jika salesman mengharapakan calon pembeli mengambil keputusan untuk membeli produk/jasa yang ditawarkan (aksi calon pembeli), maka reaksi salesman seharusnya adalah membantu calon pembeli untuk mengambil keputusannya. Ingat, agar Anda sebagai salesman tidak patah semangat, bahwa tidak selalu orang harus membeli produk/jasa yang Anda tawarkan. Banyak faktor dan alasan: bisa karena memang tidak punya dana (uang) atau memang benar-benar belum ada kebutuhan. Oleh karena itu, calon pembeli yang belum membeli pun dapat digunakan sebagai sumber kekuatan Anda. Anda dapat memasukkannya ke dalam data base untuk Anda hubungi di lain waktu, atau bisa juga Anda manfaatkan sebagai sumber referensi Anda untuk diperkenalkan kepada orang lain yang ia kenal dan ia anggap potensial untuk kita hubungi. Tidak ada usaha kreatif yang sia-sia. Selamat menjual secara kreatif.
Readmore ...

Make Fitness A Lifesstyle

You don't need an expensive club membership or a cross-country ski machine to maintain a body that exudes vitality. Forget the spandex, stopwatches, and ankle warmers, for instance, and just:






* Walk up and down the stairs to your high-rise office or apartment.

* Ride a bike to the neighborhood convenience store to pick up that quart of nonfat milk.

* Skip the cart and get some real exercise while golfing.

* Take a nature hike instead of watching a nature film on television.

* Got a friend you meet with regularly to shoot the breeze? Get in your chat while walking around the neighborhood instead of over a cup of coffee or a beer. You'll both be better off.

Readmore ...

Dealing With Difficult Customers

It is easy to work with people you like, and it is even easier to work with people who like you. But that's not always the case. Sooner or later, you'll have to deal with a difficult customer.

Difficult customers come in a wide variety. There are those whose personality rubs you the wrong way. They may not be difficult for someone else, but they are for you. And then there are those who are difficult for everyone: Picky people, know-it-alls, egocentrics, fault-finders, constant complainers, etc. Every salesperson can list a number of the types.

But perhaps the most difficult for everyone is the angry customer. This is someone who feels that he or she has been wronged, and is upset and emotional about it. These customers complain, and they are angry about something you or your company did.

There are some sound business reasons to become adept in handling an angry customer. Research indicates that customers who complain are likely to continue doing business with your company if they feel that they were treated properly. It's estimated that as many as 90% of customers who perceive themselves as having been wronged never complain, they just take their business elsewhere. So, angry, complaining customers care enough to talk to you, and have not yet decided to take their business to the competition. They are customers worth saving.

Not only are there benefits to your company, but you personally gain as well. Become adept at handling angry customers, and you’ll feel much more confident in your own abilities. If you can handle this, you can handle anything. While any one can work with the easy people, it takes a real professional to be successful with the difficult customers. Your confidence will grow, your poise will increase, and your self-esteem will intensify.

On the other hand, if you mishandle it, and you'll watch the situation dissolve into lost business and upset people. You may find yourself upset for days.

So, how do you handle an angry, complaining customer? Let's begin with a couple tools you can use in these situations.

1. RESPECT. It can be difficult to respect a person who may be yelling, swearing or behaving like a two-year-old. I'm not suggesting you respect the behavior, only that you respect the person. Keep in mind that 99 times out of 100 you are not the object of the customer's anger. You are like a small tree in the path of a swirling tornado. But unlike the small tree, you have the power to withstand the wind.

What is the source of your power? Unlike the customer, you are not angry, you are in control, and your only problem at the moment is helping him with his problem. If you step out of this positioning, and start reacting to the customer in an emotional way, you'll lose control, you’ll lose your power, and the situation will be likely to escalate into a lose-lose for everyone. So, begin with a mindset that says, "No matter what, I will respect the customer."

2. EMPATHY. Put yourself in the customer's shoes, and try to see the situation from his/her perspective. Don't try and cut him off, don't urge him to calm down. Instead, listen carefully. If someone is angry or upset, it is because that person feels injured in some way. Your job is to let the customer vent and to listen attentively in order to understand the source of that frustration. When you do that, you send a powerful unspoken message that you care about him and his situation.

Often, as the customer comes to realize that you really do care and that you are going to attempt to help him resolve the problem, the customer will calm down on his own, and begin to interact with you in a positive way.

Here's how you can use these two tools in an easily-remembered process for dealing with angry customers.

CRACK THE EGG

Imagine that you have a hard-boiled egg. The rich yellow yolk at the center of the egg represents the solution to the customer's problem, the hardened white which surrounds the yolk represents the details of the customer's situation, and the hard shell represents his/her anger.

In order to get to the yolk, and resolve the situation, you must first crack the shell. In other words, you have got to penetrate the customer’s anger. Then you've got to cut through the congealed egg white. That means that you understand the details of the customer’s situation. Finally, you're at the heart of the situation, where you can offer a solution to the customer's problem.

So, handling an angry customer is like cutting through a hard-boiled egg. Here's a four-step process to help you do so.

1. LISTEN.
Let's say you stop to see one of your regular customers. He doesn't even give you time to finish your greeting before he launches into a tirade.

At this point, about all you can do is LISTEN. And that's what you do. You don't try and cut him off, you don't urge him to calm down. Not just yet. Instead, you listen carefully. And as you listen, you begin to piece together his story. He ordered a piece of equipment three weeks ago. You quoted him X price and delivery by last Friday for a project that's starting this week. Not only is the equipment not there, but he received an invoice for it at a different price than was quoted.

"What kind of shoddy operation is this?" he wants to know. Do you understand how important his project is? Do you know how much time and money is at stake? If he doesn't get his equipment and something happens to this project, you're going to pay for it. He knew, he just knew he should have ordered the equipment from your competitor. What are you going do about it?

Now you have the basic story. Hopefully, after this gush of frustration, there will be a pause while he comes up for air.

More often than not, once the customer has had an initial chance to vent his rage, it's going to die down a little, and that's your opportunity to take step in.

Even if he has started calming down on his own, there comes a moment - and I can almost guarantee you'll sense it - to help calm him down. Try something along the lines of: "It sounds like something has gone wrong, and I can understand your frustration. I'm sorry you're experiencing this problem. Let's take a look at the next step."

Try to calm yourself first, and then to acknowledge his feelings. Say, "I can tell you're upset..." or, "It sounds like you're angry..." then connect to the customer by apologizing, or empathizing. When you say something like "I'm sorry that happened. If I were you, I'd be frustrated, too." It's amazing how much of a calming effect that can have.

Remember, anger is a natural, self-defensive reaction to a perceived wrong. If there is a problem with your company’s product or service, some frustration and disappointment is justified.

This is so important, let me repeat it. First you listen carefully and completely to the customer. Then you empathize with what the customer is feeling, and let him or her know that you understand. This will almost always calm the customer down. You've cracked the shell of the egg. Now, you can proceed to deal with the problem

2. IDENTIFY THE PROBLEM.
Sometimes while the angry customer is venting, you'll be able to latch right on to the problem because it's clear-cut. Something is broken. Or late. Or he thinks a promise has been broken.
But sometimes in the middle of all that rage, it's tough to comprehend the bottom-line issue. This is a good place for some specific questions. Ask the customer to give you some details. "What day did he order it, when exactly was it promised. What is his situation at the moment?" These kind of questions force the customer to think about facts instead of his/her feelings about those facts. So, you interject a more rational kind of conversation. Think of this step of the process as cutting through the white of the egg to get to the yolk at the center.

It's important, when you think you understand the details, to restate the problem. You can say, "Let me see if I have this right. You were promised delivery last Friday, because you need it for an important project this coming week. But you haven't received our product yet. Is that correct?"

He will probably acknowledge that you've sized up the situation correctly. Or, he may say, "No, that's not right" and then proceed to explain further. In either case the outcome is good, because you will eventually understand his situation correctly, and have him tell you that "Yes, that's right."

And at that point you can apologize. Some people believe that an apology is an acknowledgment of wrongdoing. But you can appreciate and apologize for the customer's inconvenience without pointing fingers. Just say, "Mr. Brady, I'm sorry this has happened." Or "Mr. Brady. I understand this must be very frustrating. Let's just see what we can do fix it, OK?"

3. AVOID BLAME.
You don't want to blame the customer by saying something like "Are you sure you understood the price and delivery date correctly?" This will just ignite his anger all over again because you are questioning his credibility and truth-telling.

And you don't want to blame your company or your suppliers Never say, "I’m not surprised your invoice was wrong. It's been happening a lot." Or, "Yes, our backorders are way behind."

In general, you AVOID BLAME. Which is different than acknowledging responsibility. For example, if you know, for a fact, a mistake has been made, you can acknowledge it and apologize for it. "Mr. Brady, clearly there's a problem here with our performance. I can't change that, but let me see what I can do to help you out because I understand how important your project is."

4. RESOLVE THE PROBLEM.
Now you’re at the heart of the egg. You won't always be able to fix the problem perfectly. And you may need more time than a single phone call. But it's critical to leave the irate customer with the understanding that your goal is to resolve the problem. You may need to say, "I'm going to need to make some phone calls." If you do, give the customer an idea of when you’ll get back to him: "Later this afternoon." Or "First thing in the morning."

Then do it. Make the phone calls. Get the information. Find out what you can do for this customer and do it. Then follow up with the customer when you said you would. Even if you don't have all the information you need, call when you said you would and at least let him know what you've done, what you're working on and what your next step will be. Let the customer know that he and his business are important to you, that you understand his frustration, and that you're working hard to get things fixed.

Use the tools of respect and empathy, and the "crack the egg" process, and you'll move your professionalism up a notch.
Readmore ...