Wednesday, January 7, 2009

Get Free Inspiring Article Poster

Get more Inspiring Article poster and picture here


Readmore ...

Saturday, December 20, 2008

HARGA

Masalah harga adalah salah satu faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan suatu usaha. Begitu banyak hal-hal terkait yang harus dipertimbangkan pada masalah ini, sehingga untuk menetapkan sebuah harga pada sebuah produk, meski kelihatan mudah, ternyata diperlukan perhitungan-perhitungan cermat guna terhindar dari hal-hal merugikan.

Prinsip ekonomi secara tradisional mengatakan bahwa bisnis adalah : “Mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya serendah-rendahnya.” Barangkali kalau diterjemahkan secara harfiah, dapat saja berarti bahwa kita dapat menetapkan harga atas semua produk setinggi-tingginya, dengan harapan keuntungan kita pun akan menjadi sebesar-besarnya. Mungkinkah demikian ?

Ternyata tidak. Sedikitnya ada 3 hal yang bisa mempengaruhi usahawan untuk memasang harga, yang dalam kasus ini, menghalangi kita untuk membuat harga setinggi-tingginya. Tiga hal itu adalah faktor persaingan, peraturan pemerintah dan etika.

Faktor persaingan mencegah kita dan semua usahawan dari keinginan untuk memasang harga semaunya, karena bila pesaing memasang harga rendah, otomatis semua kosumen akan lari ke pesaing tersebut. Peraturan pemerintah biasanya diterapkan untuk mencegah pihak-pihak yang mempunyai kekuatan ekonomi kuat, agar tidak mengatur harga-harga secara sepihak, terutama atas produk-produk yang menguasai hajat hidup orang banyak. Di Indonesia, hal ini bisa kita lihat mengacu pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33. Yang terakhir adalah etika. Etika merupakan benteng terakhir sifat kemanusiaan, yang bisa mencegah terjadinya kesewenang-wenangan manusia atas manusia lainnya. Penetapan harga yang melampaui batas kepantasan, juga termasuk salah satu bentuk kesewenang-wenangan manusia, oleh sebab itu, ilmu kewiraswastaan sangat merekomendasikan pembinaan sikap mental, agar semua pengusaha mengerti, mendalami serta menjiwai etika bisnis yang baik.

Didalam suatu sistem ekonomi bebas, tingkat persaingan dibuat seketat mungkin, dengan maksud mendorong peningkatan kualitas barang, sekaligus memberikan kepuasan pelanggan berdasarkan mutu dan pelayanan yang baik serta kebebasan memilih. Dengan jalan ini, harga-harga akan terbentuk secara alamiah sehingga semua pihak akan menerimanya sebagai aturan main yang adil dan jujur. Dilain sisi, para pengusaha merasakan konsekuensi bahwa persaingan harga menjadi sedemikian berat, yang kalau tidak dicermati dengan baik akan membawa akibat kerugian. Untuk menanggulangi situasi itu, banyak pakar bisnis berpikir mengenai strategi kebijaksanaan harga yang dirasa paling optimal disetiap keadaan atau kasus.

Pada perusahaan-perusaahaan yang menghasilkan multi-produk (bermacam-macam produk yang biasanya saling berkaitan), sering diterapkan strategi sedemikian, sehingga ada jenis produk tertentu yang bukan merupakan produk utama, tidak disertakan kandungan laba pada harga jualnya, sedangkan laba yang sebenarnya ada pada produk lain. Pada kasus tertentu, bahkan ada barang yang dijual secara rugi, akan tetapi bagi sipedagang ini merupakan keharusan, karena dengan penjualan rugi itulah pelanggan justru bisa ditarik minatnya untuk datang. Dibeberapa toko klontong dan juga unit penjualan koperasi, beberapa macam barang dagangan ringan seperti peniti dan bumbu masak sekali pakai, umumnya tidak diberikan harga yang berlaba, karena komoditi seperti itu hanya berfungsi sebagai penarik konsumen.

Sementara itu, produsen-produsen komoditi ringan seperti tusuk gigi dan peniti, tentu tidak mungkin menambahkan presentasi laba yang tinggi pada harga jual, oleh karenanya mereka selalu mengandalkan jumlah produksi dalam volume besar. Konsekuensinya adalah bahwa luas geografis pendistribusian barang-barang tersebut harus cukup luas. Penulis pernah mengagumi sistem pendistribusian sebuah produk ringan, yaitu tusuk gigi cap Burung Garuda yang biasa digunakan direstoran-restoran dan warung makan kota Jakarta, ternyata juga penulis temukan dipakai di warung-warung nasi ukuran kecil dipedalaman dan desa-desa di Aceh Tengah (Bireun dan Takengon) pada tahun 1976-1977, padahal waktu itu keadaan keamanan masih terhitung rawan.

Didalam suatu pasar yang telah mencapai keseimbangan, dan telah menyisakan beberapa merek tertentu sebagai peserta-peserta yang mampu bertahan hidup, sering para produsen dan penjual mencapai kesepakatan untuk memasang harga yang seragam. Dengan jalan ini pihak penjual bisa membebaskan diri dari persaingan tidak sehat, sehingga seakan-akan pangsa pasar yang ada, dibagi sama rata diantara mereka. Kita bisa menemukan komunitas penjual seperti ini, misalnya dipasar barang-barang elektronik di Glodok Jakarta. Disitu para penjual seakan bersatu-padu dalam menghadapi konsumen, sehingga tidak ada diantara mereka yang saling menjatuhkan, bahkan sebaliknya mereka saling bantu misalnya dalam penyediaan barang, bila salah satu diantara mereka kehabisan persediaan.
Readmore ...

Laju Yang Dapat Dipertahankan

Usaha-usaha kecil memberikan hasil yang besar apabila dilakukan cukup sering, dan setiap orang memiliki kemampuan untuk menjalankan usaha-usaha kecil.

Usaha-usaha kecil biasanya tidak mendapatkan perlawanan yang berarti. Dengan kesabaran dan keteguhan hati, usaha-usaha kecil itu akan mengalahkan tantangan-tantangan berat, dengan berjalanannya waktu.

Seringkali, kemajuan yang paling bisa diandalkan dan yang tak bisa dihentikan adalah kemajuan yang terlalu kecil untuk disadari. Walaupun setiap usaha kecil tampaknya tidak memberikan pengaruh apa-apa ketika anda melakukannya, pada titik tertentu anda akan melihat kembali dan menyadari dampak yang sangat besar dari semua usaha anda yang telah terkumpul.

Bila anda mencari kepuasan dengan cepat dari setiap tindakan, anda membuat hidup menjadi menyakitkan dan membuat frustasi yang tidak perlu saja. Namun bila anda memilih untuk memperlakukan setiap kesempatan sebagai investasi jangka panjang yang positif dalam hidup anda, imbalannya akan sangat besar dan banyak.

Tingkatkan perjalanan anda dengan langkah demi langkah sederhana dan dengan penuh kegembiraan. Ketika bergerak dengan laju yang dapat anda pertahankan, anda akan dapat terus maju sejauh yang diperlukan untuk mencapai tempat yang anda inginkan.

Nikmati keberhasilan dan pencapaian ketika mereka datang satu demi satu. Tambahkan nilai yang istimewa dari setiap peristiwa di kehidupan anda, dan anda akan menciptakan sebuah harta yang tak mungkin hilang.
Readmore ...

Tuesday, December 16, 2008

10 Tipe Penonton Bioskop

Masih ingat kapan terakhir kali anda pergi ke bioskop? Di tanah air, yang namanya bioskop sudah muncul sejak lebih dari seabad lampau. Ini dihitung dari pemutaran "gambar idoep" pertama kali di bioskop Batavia pada tanggal 5 Desember 1900, tepatnya di kawasan Kebon Djahe, Tanah Abang. Film pertama yang
diputar kala itu adalah sebuah dokumenter tentang perjalanan ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag.

Dari data yang disampaikan Ketua Umum DPP GPBSI (Dewan Pengurus Pusat Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia) H Djonny Syafruddin, SH, akhir 2007 silam, jumlah total bioskop di tanah air mencapai 248 dengan 681 layar. Paling banyak berlokasi di ibukota. Tentu saja jumlah ini masih akan terus bertambah.

Ngomong-ngomong, tahukah anda ternyata kebiasaan para pengunjung bioskop ini bisa dikelompokkan dalam tipe-tipe tertentu. Dan ternyata lagi, dari dulu hingga kini tipenya nyaris serupa. Hanya saja, perkembangan teknologi yang belakangan muncul menyebabkan penambahan tipe-tipe penonton baru.

Beberapa tahun lalu, sineas Joko Anwar sempat membuat pengelompokan ini dalam filmnya Janji Joni. Secara jenaka dia menggambarkan tipikal penonton dari
kebiasaan mereka saat berada di bioskop. Jika di sana digambarkan secara singkat dalam versi visual, berikut ini penjelasan sedikit lebih jauh dari tipe
penonton yang dimaksud. Sebuah paparan dalam versi main-main sebagai kado atas hari lahirnya pertunjukan bioskop di tanah air.


1. Penonton Cari Perhatian

Tak bisa dipungkiri sejak dulu kebiasaan nonton di bioskop merupakan ajang sosialisasi dengan teman-teman dan handai taulan. Seen and to be seen, demikian kata seorang rekan sosialite. Tak heran jika ada orang yang tampil maksimal dengan penampilan wah saat nonton di bioskop. Kalau bukan dengan busana yang bermerek mahal, dandanan menor atau aroma tubuh nan wangi. Tujuh kali tujuh sama dengan empat sembilan. Setuju tidak setuju yang penting penampilan. Dalam filmnya, Joko menggambarkan lewat perempuan yang bicara dengan volume suara keras.


2. Penonton Piknik

Siapa yang tidak sepakat jika bioskop adalah tempat tamasya? Terutama jika sedang ada pemutaran film anak-anak, banyak orangtua yang memboyong mereka nonton bersama. Penulis mengalami sendiri naik becak bersama adik-adik dan tetangga nonton film macam Ira Maya dan Kakek Ateng (tentu saja dibintangi Ira Maya Sopha dan almarhum Ateng) atau Anak-anak Tak Beribu (dibintangi kakak beradik Santi Sardi, Lukman Sardi dan Ajeng Triani Sardi). Sebuah piknik yang mellow lantaran film yang ditonton sungguh mengharukan.


3. Penonton Pacaran

Terserah mau dengan lain jenis ataupun sejenis. Bagi mereka yang berusia remaja, nonton bioskop adalah alasan ampuh untuk pergi dari rumah. Selanjutnya, lokasi wakuncar (so 80’s ya...) dipindahkan di tengah gelapnya bioskop. Bukan masalah pula, mau kelas atas atau kelas kambing, kelas AC atau kelas kipas angin. Yang penting bisa kencan. Taglinenya: film main, penonton main.


4. Penonton Pembajak

Tipe ini termasuk yang muncul belakangan. Teknologi baru melahirkan tipe penonton jenis ini. Dengan seperangkat kamera video mini, penonton pembajak merekam
film dari awal sampai akhir. Maka tak heran, jika anda membeli VCD atau DVD bajakan berkualitas buruk, acapkali terdengar suara penonton ataupun bayangan
tubuh penonton yang sedang melintas. Tentu saja tidak untuk ditiru, secara harga karcis bioskop jaringan 21 sudah murah sekali, paling murah kira-kira
dua mangkok mie ayam.


5. Penonton Spoiler

”Nanti habis ini jagoannya ditembak, eh malah kena temannya”. Kalimat macam ini tentu saja sangat mengganggu kenikmatan saat menonton film. Maklumlah, umumnya penonton datang ke bioskop untuk mendapatkan cerita. Jadi jika ujungnya sudah diketahui buat apa lagi datang dan memelototi gambar. Biasanya penonton spoiler ini mereka yang sudah nonton film sebelumnya.


6. Penonton Kritikus Film

Kritikus film atau kritikus bukan ini-atau itu atau wartawan film terserah. Merekalah yang biasanya sibuk sendiri saat film diputar. Dengan bantuan penerangan dari ponsel mereka mencatat bagian-bagian yang dianggap penting dari film yang mereka tonton. Namun kini peran ponsel itu sudah tergantikan dengan perangkat gadget yang lebih canggih, entah PDA, communicator atau blackberry.


7. Penonton Ponsel

Penggunaan ponsel marak sejak satu dekade silam, tepatnya akhir 1990-an. Ketika masih jarang pemiliknya, wajar saja jika dia bersikap pamer dengan bicara
keras-keras saat menjawab telepon. Sekalipun saat nonton di bioskop. Ternyata, perilaku kampungan ini masih juga belum hilang sama sekali. Sekalipun sudah dibuatkan himbauan larangan penggunaan ponsel saat film diputar, masih banyak yang lempeng aja tak perduli siapa yang di sebelahnya.


8. Penonton Tidur

Tipe penonton ini terbagi lagi atas ada dua macam. Pertama, sang penonton yang sudah kelelahan entah darimana hingga jatuh terlelap. Kedua, film yang ditonton sungguh membosankan hingga lebih baik tidur saja. Atau kata lainnya film itu dibuat khusus untuk mereka yang sulit tidur atau insomnia.


9. Penonton Telmi

”Kok jagoannya mati?” Jika pertanyaan macam ini datang dari penonton sebelah kita ini namanya malapetaka. Masih mending jika dia yang membayari karcis untuk nonton filmnya. Kata telmi alias telat mikir, bisa juga dari bahasa Inggris tell me, atau ceritain lagi dong. Tentu saja sungguh bikin repot dan mengurangi
kenikmatan nonton.


10. Penonton Perfeksionis

Konon penonton macam ini sungguh mengerti seluk-beluk film. Ciri-cirinya: selalu memelototi layar yang ada di depan matanya. Dia akan protes jika gambarnya tidak fokus, apalagi jika sampai rol yang belum datang-datang lantaran harus menunggu si Joni. Nah, jika ada yang teriak-teriak saat terjadi kondisi yang disebut belakangan boleh juga termasuk penonton perfeksionis.
Readmore ...

Profesi

Profesi adalah mata pencaharian, maka sudah sewajarnya apabila sebuah profesi dijalani dengan penuh pengorbanan.

Jangan pikirkan masalah suka tidak suka, ini bukan pilihan benarkah?

Apakah mengikuti cahaya lentera jiwa bukan sebuah pilihan?
atau lentera jiwa anda telah meredup tertalan pekat ketidakberdayaan?

Temukan & ikuti lentera jiwamu

Follow your passion

Readmore ...

Saturday, December 13, 2008

Pekerjaan Yang Diselesaikan Dengan Baik

Tidak ada yang dapat menandingi kepuasan yang anda terima setelah menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan baik. Ketika masalah telah diatasi dan tugas-tugas sulit telah diselesaikan, anda tahu pasti bahwa anda telah menciptakan sesuatu bernilai nyata.
Tantangan seperti apa pun dapat terlihat sangat berat ketika anda pertama kali menjumpainya. Namun ketika anda mulai berusaha mengatasinya, anda merubahnya dari yang tadinya beban berat menjadi sebuah kepuasan.
Keyakinan yang anda peroleh dari sebuah pekerjaan yang telah diselesaikan dengan baik tidak dapat diperoleh dengan cara lainnya. Dan keyakinan tersebut akan tetap bersama anda jauh setelah pekerjaan tadi telah selesai.
Nilai sesungguhnya dari sebuah keberhasilan adalah bukan pada saat anda memperolehnya, tapi pada saat anda sedang melakukannya. Keberhasilan terletak pada kondisi pikiran anda, dan cara yang paling bisa diandalkan untuk mencapai kondisi pikiran itu adalah dengan mengatasi tantangan yang besar. Apa yang merupakan sebuah karunia adalah bahwa akan selalu ada pekerjaan yang harus dilakukan.
Melangkahlah dengan penuh keinginan dan sambutlah setiap pekerjaan yang anda tahu dapat memberikan sebuah perbedaan. Dan nikmati imbalan-imbalan yang terus mengalir dari pekerjaan yang diselesaikan dengan baik.
Readmore ...

Friday, December 12, 2008

Kejujuran & Kepercayaan

" Diperlukan waktu 20 tahun untuk membangun reputasi dan 5 menit untuk
menghancurkannya "
Warren Edward Buffet

Kejujuran dan kepercayaan adalah dua keping mata uang yang sangat bernilai bagi kelangsungan bisnis jangka panjang. Untuk membangun reputasi dan kepercayaan diperlukan adanya kejujuran dalam setiap aspek kehidupan bisnis. Kejujuran yang dikembangkan dalam setiap aspek kehidupan bisnis akan melahirkan kepercayaan. Kepercayaan yang terbangun akan melahirkan dukungan dari pihak lain bagi keberhasilan dan kelangsungan bisnis.

Dengan demikian menanamkan nilai nilai kejujuran dan kepercayaan di dunia bisnis adalah modal berharga bagi kelangsungan usaha jangka pajang. Maka kalau Anda ingin berhasil di dunia bisnis mulailah membangun personal branding atau personal reputation sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya. Keduanya tidak bisa ditawar lagi menjadi mata uang bagi kesuksesan Anda jangka panjang yang membahagiakan.
Readmore ...